Dunia Fantasi(ku)
Tiada kesedihan, ketamakan, kemarahan
Yang ada hanya manis senyuman
Hijau padang ilalang, kecapung berterbangan
Senandungkan irama nyanyian alam
Tiada gedunggedung menjulang
Jalanan derit roda kendaraan
Hanya pejalan telanjang kaki
Gubuk bambu nan asri
Tak perlu lampu hias
Pula pesawat hercules
Cukup binar netra kunangkunang
Pun cahaya rembulan bintang
Bukan keangkuhan keegoisan
Kebengisan keangkara murkaan
Namun indah dalam kedamaian
Dua fantasi yang kuidamkan
Bayam Bundax(Ida Sulistiana)
Rimba Singa Jan'30'16
"Lukisan Qalbu Ida Aka Bayam Bundax"
"Aku masih belajar pada Alam; tiada membenci pun menyakiti. Pula tiada ingkar janji"
Friday, January 29, 2016
Alur Sebuah Cerita
Alur Sebuah Cerita
Aku coba bolak-balik
Pun aduk-aduk isi otak
Tuk merangkai sebuah cerita
Aku kira mudah ternyata
Saat aku membaca
Goresangoresan pena pujangga
Begitu mulus mempesona
Aku takjub terkesima
Aaiihhh ... Kenapa tidak denganku
Apakah karena rendah IQ
Entahlah, mungkin keterbatasan ilmu ku
Hanya mengenyam seragam putih biru
Alur sebuah cerita
Tentang perjalanan cinta
Ingin kurangkai sedemikian rupa
Untuk sebuah karya Perdana
Rimba Singa Jan'27'16
Aku coba bolak-balik
Pun aduk-aduk isi otak
Tuk merangkai sebuah cerita
Aku kira mudah ternyata
Saat aku membaca
Goresangoresan pena pujangga
Begitu mulus mempesona
Aku takjub terkesima
Aaiihhh ... Kenapa tidak denganku
Apakah karena rendah IQ
Entahlah, mungkin keterbatasan ilmu ku
Hanya mengenyam seragam putih biru
Alur sebuah cerita
Tentang perjalanan cinta
Ingin kurangkai sedemikian rupa
Untuk sebuah karya Perdana
Rimba Singa Jan'27'16
Tuesday, October 20, 2015
Amarah Rajaiku
Amarah Rajaiku
Sekian lama aku biarkan; amarah menindas, menjajah mengekang, memenjarakan kuasai bathin otakku, hingga menghimpit mempersempit caraku berfikir
Alhasil: aku seperti katak dalam tempurung, disitulah yang kuanggap paling nyaman benar, tak peduli betapa indah dunia luar permadani keelokan alam luas terbentang
Aku hanya merasa; pun mungkin tiada lain tempat yang paling megah selain tempat pada diriku berada, buta netra pengliatan, tuli pendengaran
Amarah yang kupupuk; semai dengan keegoisan keangkuhan kesombongan membakar hangus keseluruh kesadaran wawasan, kinipun telah menjadi abu
Tak pernah terfikirkan olehku; dampak akibat yang kutau kumau, puaskah hasrat menggebu rasaku karena amarah rajai sekutui jiwaku
Rimba Singa Oct'20'15
Sekian lama aku biarkan; amarah menindas, menjajah mengekang, memenjarakan kuasai bathin otakku, hingga menghimpit mempersempit caraku berfikir
Alhasil: aku seperti katak dalam tempurung, disitulah yang kuanggap paling nyaman benar, tak peduli betapa indah dunia luar permadani keelokan alam luas terbentang
Aku hanya merasa; pun mungkin tiada lain tempat yang paling megah selain tempat pada diriku berada, buta netra pengliatan, tuli pendengaran
Amarah yang kupupuk; semai dengan keegoisan keangkuhan kesombongan membakar hangus keseluruh kesadaran wawasan, kinipun telah menjadi abu
Tak pernah terfikirkan olehku; dampak akibat yang kutau kumau, puaskah hasrat menggebu rasaku karena amarah rajai sekutui jiwaku
Rimba Singa Oct'20'15
Sunday, October 18, 2015
Lukisan Pagi
Lukisan Pagi
Sengat fajar bangunkan pagi
Menelisik pada poripori kulit bumi
Kembali menggilitik lapisanlapisan debu
Lalu menari-nari akan irama lenggang sang bayu
Embunpun perlahan mengangkasa
Menemani gumpalan awan diatas sana
Berbulir bening membasah
Mengurai kristalkristal tirta indah
Kupukupu mengecup mesra dedaun
Tupai berkejaran pada ranting dahan
Bersuka cita menyambut ceria
Awal pagi penuh gempita
Roda waktu masih berjalan
Berputar terasa tanpa beban
Alam semesta masih terjaga
Laksanakan amanah dariNya
Rimba Singa Oct'19'15
Sengat fajar bangunkan pagi
Menelisik pada poripori kulit bumi
Kembali menggilitik lapisanlapisan debu
Lalu menari-nari akan irama lenggang sang bayu
Embunpun perlahan mengangkasa
Menemani gumpalan awan diatas sana
Berbulir bening membasah
Mengurai kristalkristal tirta indah
Kupukupu mengecup mesra dedaun
Tupai berkejaran pada ranting dahan
Bersuka cita menyambut ceria
Awal pagi penuh gempita
Roda waktu masih berjalan
Berputar terasa tanpa beban
Alam semesta masih terjaga
Laksanakan amanah dariNya
Rimba Singa Oct'19'15
Friday, October 16, 2015
Jendela Hati
"Jendela Hati"
Ku kuak lebarlebar; agar lebih leluasa menghirup segar nya udara, meski tak terelakkan, halus debu berterbangan.
Kesegaran nya; senantiasa menyejukkan, menyegarkan, keseluruh sendi pun organorgan, agar supaya tubuh bernafas indah.
Jendela Hati; ketika pagi mendekati, sampaikan salam tentang keindahan, kelembutan pun kebaikan alam. Agar tiada tersia-siakan.
Teruskan langkah; sisasisa perjalanan. Berbesar hati, kesyukuran tiada henti. Atas segala karunia nikmat, pun segala apa yang telah Dia beri.
Jendela Hati; seribu satu rasa terpatri. Yakin tiada sesuatu yang lebih indah dari segala yang indah. Kala hati mampu mensyukuri nikmat karunia Illahi.
Rimba Singa 18-04-15 7:45 am
Ku kuak lebarlebar; agar lebih leluasa menghirup segar nya udara, meski tak terelakkan, halus debu berterbangan.
Kesegaran nya; senantiasa menyejukkan, menyegarkan, keseluruh sendi pun organorgan, agar supaya tubuh bernafas indah.
Jendela Hati; ketika pagi mendekati, sampaikan salam tentang keindahan, kelembutan pun kebaikan alam. Agar tiada tersia-siakan.
Teruskan langkah; sisasisa perjalanan. Berbesar hati, kesyukuran tiada henti. Atas segala karunia nikmat, pun segala apa yang telah Dia beri.
Jendela Hati; seribu satu rasa terpatri. Yakin tiada sesuatu yang lebih indah dari segala yang indah. Kala hati mampu mensyukuri nikmat karunia Illahi.
Rimba Singa 18-04-15 7:45 am
Pada Bunga Kubercengkrama
Pada Bunga Kubercengkrama
Bunga...
Aku tau kau tak berdaun telinga
Pula beranting dahan kelopak netra
Namun Bunga...
Ijinkan barang sejenak
Kuingin bercerita
Taukah kamu Bunga...
Saat kubaru lahir dari rahim ibunda
Aku begitu polos tentunya
Tak tau menau apa itu noda dosa nista
Tapi Bunga...
Ketika aku mulai merangkap
Berdiri berjalan tertatih berlari
Disitulah aku mulai mendaki
Menanjaki titian tebing jurang
Bahkan kubangan lumpur kenistaan
Semakin berkembang tumbuh tubuhku
Begitulah nodaku kian membengkak
Entah kapan ia nya
Akan muntahkan lahar anyir amis
Kotoran yang sekian lama terbendung
Didalam dasar lautan hati
Bunga...
Tentu aku tiada hak pun kuasa
Menolak takdirku
Yang harus aku jalani
Ketika perpaduan kasih Ayah-Bunda
Telah menjelma benih sukma
Sebagai diri aku
Pun telah tersuguhkan dua pilihan
Antara Putih dan Hitam
Cahaya terang pun kegelapan
Sebagaimana wujud bentukku sekarang
Puaskah cukupkah
Atau masih saja aku
Terperangkap dalam lingkaran
Perputaran waktu
Entahlah....
Rimba Singa Oct'16'15
Bunga...
Aku tau kau tak berdaun telinga
Pula beranting dahan kelopak netra
Namun Bunga...
Ijinkan barang sejenak
Kuingin bercerita
Taukah kamu Bunga...
Saat kubaru lahir dari rahim ibunda
Aku begitu polos tentunya
Tak tau menau apa itu noda dosa nista
Tapi Bunga...
Ketika aku mulai merangkap
Berdiri berjalan tertatih berlari
Disitulah aku mulai mendaki
Menanjaki titian tebing jurang
Bahkan kubangan lumpur kenistaan
Semakin berkembang tumbuh tubuhku
Begitulah nodaku kian membengkak
Entah kapan ia nya
Akan muntahkan lahar anyir amis
Kotoran yang sekian lama terbendung
Didalam dasar lautan hati
Bunga...
Tentu aku tiada hak pun kuasa
Menolak takdirku
Yang harus aku jalani
Ketika perpaduan kasih Ayah-Bunda
Telah menjelma benih sukma
Sebagai diri aku
Pun telah tersuguhkan dua pilihan
Antara Putih dan Hitam
Cahaya terang pun kegelapan
Sebagaimana wujud bentukku sekarang
Puaskah cukupkah
Atau masih saja aku
Terperangkap dalam lingkaran
Perputaran waktu
Entahlah....
Rimba Singa Oct'16'15
Rimba Perjuangan
Rimba Perjuangan
Aku masih bergumul indah
Dengan semak belukar
Ranting duriduri tajam
Ganas bisa ular
Sorotan mata srigala
Auman sang raja rimba
Yang pun bisa kulakukan
Menjinakan menyatu padu
Bagian dari mereka
Menikmati setiap sentuhan
Cumbu pun rayu
Hingga aku mampu
Merasakan klimak puncak nikmat
Melahirkan sebuah kenyamanan
Dalam liang ganas merangas
Didihnya bara lahar
Rimba perjuangan
Rimba Singa Sept'20'15
Aku masih bergumul indah
Dengan semak belukar
Ranting duriduri tajam
Ganas bisa ular
Sorotan mata srigala
Auman sang raja rimba
Yang pun bisa kulakukan
Menjinakan menyatu padu
Bagian dari mereka
Menikmati setiap sentuhan
Cumbu pun rayu
Hingga aku mampu
Merasakan klimak puncak nikmat
Melahirkan sebuah kenyamanan
Dalam liang ganas merangas
Didihnya bara lahar
Rimba perjuangan
Rimba Singa Sept'20'15
Subscribe to:
Posts (Atom)